Bismillah
Fenomena Akhir Ramadhan Di Indonesia.Alhamdulillah kita telah menginjak Ramadhan hari ke 24 di tahun ini sahabat.Tidak lama lagi kita akan menemui Hari Raya Id yang Insya Allah kurang 5 atau 6 hari lagi nanti.Tinggal menunggu pengumuman resmi dari Pemerintah.Setelah kemarin kita memposting mengenai Bila Buah Hati Takut Kecoa dan juga tentang AsKep Inkontinensia Urine maka pagi ini sedikit membahas mengenai Fenomena Akhir Ramadhan Di Indonesia.
Di hari-hari pertama ramadhan, dengan antusias dan semangat para umat muslim di Indonesia tercinta ini dengan semangatnya berbondong-bondong mendatangi masjid atau mushola untuk menjalankan shalat tarawih. Sampai-sampai ruangan masjid atau mushola tidak cukup sehingga harus ditambah di halaman masjid atau mushola agar para jamaah shalat tarawih bisa ikut shalat bersama.Tetapi justru mendekati akhir-akhir Ramadhan ini yang kita dapati masjid-masjid yang tadinya penuh sesak jamaah sekarang hanya tinggal beberapa baris shaf saja.
Bulan Ramadhan itu kata Ustadz ibarat sebuah kompetisi di mana semakin menjelang akhir kompetisi para peserta yang masih bertahan semakin sedikit, ibaratnya yang tersisa adalah para jawara-jawaranya, begitu juga bulan ramadhan ini yang masih tetap bertahan dan masih istiqomah niatnya mencari ridha Allah adalah umat pilihan yang benar-benar niatnya ikhlas mencari ridha Allah Ta'ala.
Yang kita jumpai malah para jamaah yang tadinya awal ramadhan memenuhi masjid-masjid, mushola-mushola sekarang berpindah ke mall-mall untuk berburu barang untuk persiapan Hari Raya dan kebutuhan lain dalam rangka hari raya.
Justru bila kita mengetahui akan keutamaan sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan tentunya akan terjadi kebalikan dari fenomena tersebut di atas.Yang akan penuh justru masjid-masjid dan mushola.Kapan Ya Indonesia akan seperti itu...?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terlihat lebih rajin di akhir Ramadhan lebih dari hari-hari lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits : "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya."
(HR. Muslim no. 1175)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi contoh dengan memperbanyak ibadahnya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan. Untuk maksud tersebut beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai menjauhi istri-istri beliau dari berhubungan intim. Beliau pun tidak lupa mendorong keluarganya dengan membangunkan mereka untuk melakukan ketaatan pada malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.
"Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya."
(HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Akhir Ramadhan juga ada Malam Lailatul Qadar.Sudah selayaknya kaum muslimin untuk bertambah semangat di sepertiga akhir ramadhan daripada sebelumnya karena adanya malam lailatul qadar dalam salah satu malam dari sepuluh malam terakhir Ramadhan
Allah Ta'ala berfirman :"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
(QS. Al Qadar: 3)
Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Telah terdapat keutamaan yang besar bagi orang yang menghidupkan malam tersebut.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :"Barangsiapa melaksanakan shalat pada lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni."
(HR. Bukhari no. 1901)
Itulah sedikit mengenaiFenomena Akhir Ramadhan Di Indonesia di negeri kita tercinta ini.Masih ada sisa-sisa akhir Ramadhan yang belum kita lalui sahabat. Semoga kita dimudahkan Allah Ta'ala untuk memperoleh malam kemuliaan dan fadhilah-fadhilah amalan di akhir Ramadhan ini.
Semoga jadi bahan renungan kita dan semoga bermanfaat sahabat.
Terima kasih sahabat telah membaca artikel : Fenomena Akhir Ramadhan Di Indonesia
Rabu, 24 Agustus 2011
Selasa, 23 Agustus 2011
Puding Permata - Apa Dah Jadi?
| Layann jer ... |
Hahaha ... Apa Dah Jadi? Aduhai percubaan pertama yang tak menjadi. Sekian lama teruja melihat gambar gambar puding permata yang begitu cantik dipaparkan dalam blog blog masakan, sekian lama mencari serbuk agar agar yang kehabisan di mini mini market di sini, akhirnya ini yang terjadi ..huhuhu. Saya telah pun membuat post mortem, hah pinjam istilah perubatan jap macam mana boleh terjadi begini. Puding tidak cukup kecairan untuk menenggelamkan permata permata. Pada masa yang sama, kastard juga tidak cukup keras untuk dipotong... Tak apa saya pasti cuba lagi sehingga menjadi. Apa apa pun rasa puding ini sedap sekali, cuma saya perlu mengurangkan sukatan gula di percubaan akan datang. Cara memasak agar agar juga perlu diubahsuai. Sekarang ini, kita layann resepi dulu ....
Puding Permata
Bahan untuk agar-agar :
1 sudu besar serbuk agar agar
300ml air
200ml susu cair
125gm gula pasir
2 sudu besar serbuk koko (dibancuh dg sedikit air)
Bahan untuk kastad :
10gm serbuk agar agar
500ml air
400ml susu cair
250gm gula pasir (boleh kurangkan)
1 1/2 sudu besar tepung kastad (dibancuh dengan 3 sudu besar air)
Bahan untuk agar-agar :
1 sudu besar serbuk agar agar
300ml air
200ml susu cair
125gm gula pasir
2 sudu besar serbuk koko (dibancuh dg sedikit air)
Bahan untuk kastad :
10gm serbuk agar agar
500ml air
400ml susu cair
250gm gula pasir (boleh kurangkan)
1 1/2 sudu besar tepung kastad (dibancuh dengan 3 sudu besar air)
Cara-cara :Untuk agar-agar :
- Masak air, susu dan gula pasir hingga mendidih.
- Masukkan serbuk koko yg dibancuh dg sedikit air dan kacau rata.
- Masukkan pula serbuk agar-agar dan masak hingga mendidih.
- Tapis agar-agar ke dalam loyang leper dan sejukkan di dalam peti sejuk. Apabila telah sejuk, potong dalam bentuk dadu yang comel-comel. Ketepikan kejap.
Untuk kastad :
- Masak air, susu dan gula hingga mendidih.
- Masukkan bancuhan tepung kastad yg dibancuh dg 3 sudu besar air dan kacau hingga sebati.
- Masukkan pula serbuk agar-agar dan masak hingga mendidih dan pekat.
- Tuang bancuhan kastad ke dalam loyang saiz 7” x 7” dan masukkan pulak agar-agar yang dipotong dadu tadi. Sejukkan hingga keras sebelum dipotong dan dihidangkan.
Ayam Masak Merah
| siap dihidang ... |
| jemput makan ... |
Balik dari pejabat tadi, sempat masak ayam masak merah untuk juadah berbuka. Keputusan untuk memasak dibuat last minute mengenangkan permintaan anak bongsu kami, Aween yang minta saya masakkan Ayam Masak Lemak masa berbuka semalam. Seronok melihat dia yang berselera makan ayam masak lemak hingga menambah nambah. Hilang rasa penat bila melihat anak anak makan dengan berselera. Lagi pun masakan ini amat simple dan cepat disediakan. Saya pernah melihat aunty saya menggunakan susu cair dalam masakan ayam masak merah beliau dan akhir sekali ditaburkan dengan kacang peas. hahaha saya tak meletak kacang peas kerana pertama sebab tak ada stock dan kedua kerana anak anak tak suka. Jom, layan resepi ayam masak merah versi saya...
Bahan bahan:
Cili giling
Cili merah
Bawang besar
Bawang putih
Halia
Serai (titik)
Sos tomato & sos cili
Tomato buah (potong)
Bawang besar (hiris bulat)
Daun sadri sebagai hiasan
Ayam potong ikut suka. Dilumur garam dan kunyit dan digoreng separuh masak. Bahan bahan lain di blend dan ditumis hingga garing dan naik minyak. Masukkan sos tomato, sos cili, garam dan serbuk perasa. Masukkan sedikit air jika terlalu pekat.
Masukkan ayam yang telah digoreng. Akhir sekali masukkan tomato dan bawang besar hiris. Sesuaikan kepekatannya dan siap. Tabur daun sadri sebagai hiasan.
| masih di kuali ... |
Senin, 22 Agustus 2011
MATA JENDELA DUNIA
Mata adalah sensor tubuh yang mendeteksi cahaya. Bagian-bagian pada organ mata, bekerja sama menghantarkan cahaya dari sumbernya menuju ke otak untuk dapat dicerna oleh sistem saraf.
Meski merupakan orang yang rentan mengalami gangguan, sebenarnya mata terdesain sangat aman dan terlindungi. Mata terletak dalam cekungan pada tulang tengkorak. Kelopak melindungimata di bagian depan. Bulu mata menangkap banyak partikel, yang bisa masuk ke mata. Secaraotomatis, mata mengedip rata-rata tiap 6 detik, sehingga kotoran di mata tercuci oleh air mata. Sebagai perlindungan lebih jauh, kelopak mata secara otomatis menutup, saat ada benda mendekat kea rah mata.
Katarak, sebagai penyakit mata yang banyak menyerang manusia pada usia di atas 65 tahun dengan terlihat dari gejala penglihatan yang berkabut, silau, bila dilihat dengan bantuan cahaya pada pupil akan terlihat keruh. Gangguan mata yang banyak terjadi di Indonesia ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain, karena regenerative atau faktor usia, terganggunya metabolism tubuh akibat penyakit berkepanjangan, bawaan lahir atau bahkan keracunan. Walaupun masih dapat diobati, namun katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.
Pada awal serangan, penderita katarak merasa gatal-gatal pada mata, air matanya mudah keluar, pada malam hari penglihatan terganggu, dan tidak bisa menahan silau sinar matahari atau sinar lampu. Selanjutnya penderita akan melihat selaput seperti awan di depan penglihatannya. Awan yang menutupi lensa mata tersebut akhirnya semakin merapat dan menutup seluruh bagian mata. Bila sudah sampai tahap ini, penderita akan kehilangan penglihatannya.
Katarak dibagi memjadi beberapa jenis yaitu:
Katarak Senilis (Ketuaan), yaitu katarak yang timbul setelah umur 40 tahun, proses pasti belum diketahui, diduga karena ketuaan.
Katarak Kongenital, yaitu katarak yang timbul sejak dalam kandungan atau timbul setelah dilahirkan, umumnya disebabkan karena adanya infeksi, dan kelainan metabolisme pada saat pembentukan janin. Katarak Kongenital yang sering timbul karena infeksi saat ibu mengandung, terutama pada kehamilan 3 bulan pertama.
Katarak Traumatika, yaitu katarak yang dapat menyerang semua umur, biasanya karena pasca trauma baik tajam maupun tumpul pada mata terutama mengenai lensa.
Katarak Komplikata, adalah katarak yang timbul pasca infeksi mata. Katarak berkembang lambat namun potensial menjadi kebutaan jika tidak segera diobati. Penderita tidak menyadari gejala gangguan katarak, karena prosesnya yang berlangsung berangsur-angsur sampai daya penglihatan baru terasa pengaruhnya setelah katarak ini berkembang sekitar 3-5 tahun. Maka dari itu, penderita biasanya baru menyadari setelah memasuki stadium kritis. Satu-satunya pengobatan adalah melalui pembedahan, yaitu pengambilan lensa keruh.
Penggantian lensa ada dua cara yaitu:
1. Penderita setelah dioperasi diberi kacamata atau lensa kontak positif kurang lebih 10 dioptri.
2. Penderita dipasang lensa tanam bersamaan waktu dilakukan operasi, keuntungannya adalah penderita setelah operasi penderita langsung dapat melihat jelas, tidak perlu memakai kacamata sangat tebal, lapang pandang penderita tetap luas dan distorsi sinar dapat dihilangkan.
Meski merupakan orang yang rentan mengalami gangguan, sebenarnya mata terdesain sangat aman dan terlindungi. Mata terletak dalam cekungan pada tulang tengkorak. Kelopak melindungimata di bagian depan. Bulu mata menangkap banyak partikel, yang bisa masuk ke mata. Secaraotomatis, mata mengedip rata-rata tiap 6 detik, sehingga kotoran di mata tercuci oleh air mata. Sebagai perlindungan lebih jauh, kelopak mata secara otomatis menutup, saat ada benda mendekat kea rah mata.
Katarak, sebagai penyakit mata yang banyak menyerang manusia pada usia di atas 65 tahun dengan terlihat dari gejala penglihatan yang berkabut, silau, bila dilihat dengan bantuan cahaya pada pupil akan terlihat keruh. Gangguan mata yang banyak terjadi di Indonesia ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain, karena regenerative atau faktor usia, terganggunya metabolism tubuh akibat penyakit berkepanjangan, bawaan lahir atau bahkan keracunan. Walaupun masih dapat diobati, namun katarak merupakan penyebab utama kebutaan di dunia.
Pada awal serangan, penderita katarak merasa gatal-gatal pada mata, air matanya mudah keluar, pada malam hari penglihatan terganggu, dan tidak bisa menahan silau sinar matahari atau sinar lampu. Selanjutnya penderita akan melihat selaput seperti awan di depan penglihatannya. Awan yang menutupi lensa mata tersebut akhirnya semakin merapat dan menutup seluruh bagian mata. Bila sudah sampai tahap ini, penderita akan kehilangan penglihatannya.
Katarak dibagi memjadi beberapa jenis yaitu:
Katarak Senilis (Ketuaan), yaitu katarak yang timbul setelah umur 40 tahun, proses pasti belum diketahui, diduga karena ketuaan.
Katarak Kongenital, yaitu katarak yang timbul sejak dalam kandungan atau timbul setelah dilahirkan, umumnya disebabkan karena adanya infeksi, dan kelainan metabolisme pada saat pembentukan janin. Katarak Kongenital yang sering timbul karena infeksi saat ibu mengandung, terutama pada kehamilan 3 bulan pertama.
Katarak Traumatika, yaitu katarak yang dapat menyerang semua umur, biasanya karena pasca trauma baik tajam maupun tumpul pada mata terutama mengenai lensa.
Katarak Komplikata, adalah katarak yang timbul pasca infeksi mata. Katarak berkembang lambat namun potensial menjadi kebutaan jika tidak segera diobati. Penderita tidak menyadari gejala gangguan katarak, karena prosesnya yang berlangsung berangsur-angsur sampai daya penglihatan baru terasa pengaruhnya setelah katarak ini berkembang sekitar 3-5 tahun. Maka dari itu, penderita biasanya baru menyadari setelah memasuki stadium kritis. Satu-satunya pengobatan adalah melalui pembedahan, yaitu pengambilan lensa keruh.
Penggantian lensa ada dua cara yaitu:
1. Penderita setelah dioperasi diberi kacamata atau lensa kontak positif kurang lebih 10 dioptri.
2. Penderita dipasang lensa tanam bersamaan waktu dilakukan operasi, keuntungannya adalah penderita setelah operasi penderita langsung dapat melihat jelas, tidak perlu memakai kacamata sangat tebal, lapang pandang penderita tetap luas dan distorsi sinar dapat dihilangkan.
POLA MAKANAN IBU HAMIL
Sepanjang trimester pertama, calon ibu sering menderita emesis gravidarum, yaitu banyaknya air liur, rasa mual dan muntah akibat perubahan sistem pencernaan berupa produksi asam lambung berlebihan dan melambatnya waktu pengosongan lambung atau penurunan pergerakan peristaltik usus, akibat perubahan hormon pada kehamilan. Pada keadaan itu, calon ibu biasanya membutuhkan perangsang rasa pedas.
Pada prinsipnya, makanan apa pun dapat dikonsumsi asalkan sehat. Sambal atau cabe rawit boleh-boleh saja sejauh tidak menganggu pencernaan (mual, muntah, sakit perut, diare) terutama bila ibu menderita gangguan tukak lambung/usus atau sakit maag.
Pertumbuhan Janin
Secara langsung, sambal tidak menganggu pertumbuhan janin. Tetapi, bila menimbulkan muntah dan diare, dapat mencetus dehidrasi (kekurangan cairan dan elektrolit) dan menurunnya pasokan mikronutrisi lain yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin. Rasa panas yang ditimblkan setelah mengkonsumsi cabai di dalam perut akan mempengaruhi si Kecil dalam kandungan yang masih lembut, sangat sensitive dan dapat mengganggu perkembangan saraf terutama kulitnya.
Diare
Makanan yangmengandung banyak bumbu seperti cabai atau merica terkadang dapat menimbulkan gangguan pada lambung dan gangguan pencernaan lain seperti diare. Makanan seperti ini dapat bahaya terhadap janin. Jika timbul diare setelah mengonsumsi makanan pedas, cukup dengan menghentikan konsumsi makanan tersebut, dan mengganti elektrolit yang hilang dengan minum oralit. Diare akan berhenti spontan tanpa harus minum obat tertentu. Namun, jika pada saat diare bisa menimbulkan kontraksi pada rahim karena kram perut yang terjadi. Kontraksi ini berakibat pd penekanan janin di dalam rahim. Kontraksi ini akan berakibat jg penekanan kpd usus besar.
Makanan Asam
Pembatasan ini berlaku juga untuk minuman yang rasanya asam. Terlalu banyak mengonsumsi minuman asam akan membuat lambung tidak nyaman. Bahkan bukan tidak mungkin akan menyebabkan perlukaan di usus bila rasa asam itu berasal dari cuka atau bahan-bahan nonbiologis lainnya. Kondisi ini bisa lebih parah pada ibu hamil yang sebelumnya sudah mengidap gangguan lambung (gastritis).
Bukan berarti ibu hamil tak boleh sama sekali menyentuh makanan pedas dan asam, yang diperlukan adalah mengatur menjaga untuk mengonsumsinya secara tidak berlebihan
Pada prinsipnya, makanan apa pun dapat dikonsumsi asalkan sehat. Sambal atau cabe rawit boleh-boleh saja sejauh tidak menganggu pencernaan (mual, muntah, sakit perut, diare) terutama bila ibu menderita gangguan tukak lambung/usus atau sakit maag.
Pertumbuhan Janin
Secara langsung, sambal tidak menganggu pertumbuhan janin. Tetapi, bila menimbulkan muntah dan diare, dapat mencetus dehidrasi (kekurangan cairan dan elektrolit) dan menurunnya pasokan mikronutrisi lain yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang janin. Rasa panas yang ditimblkan setelah mengkonsumsi cabai di dalam perut akan mempengaruhi si Kecil dalam kandungan yang masih lembut, sangat sensitive dan dapat mengganggu perkembangan saraf terutama kulitnya.
Diare
Makanan yangmengandung banyak bumbu seperti cabai atau merica terkadang dapat menimbulkan gangguan pada lambung dan gangguan pencernaan lain seperti diare. Makanan seperti ini dapat bahaya terhadap janin. Jika timbul diare setelah mengonsumsi makanan pedas, cukup dengan menghentikan konsumsi makanan tersebut, dan mengganti elektrolit yang hilang dengan minum oralit. Diare akan berhenti spontan tanpa harus minum obat tertentu. Namun, jika pada saat diare bisa menimbulkan kontraksi pada rahim karena kram perut yang terjadi. Kontraksi ini berakibat pd penekanan janin di dalam rahim. Kontraksi ini akan berakibat jg penekanan kpd usus besar.
Makanan Asam
Pembatasan ini berlaku juga untuk minuman yang rasanya asam. Terlalu banyak mengonsumsi minuman asam akan membuat lambung tidak nyaman. Bahkan bukan tidak mungkin akan menyebabkan perlukaan di usus bila rasa asam itu berasal dari cuka atau bahan-bahan nonbiologis lainnya. Kondisi ini bisa lebih parah pada ibu hamil yang sebelumnya sudah mengidap gangguan lambung (gastritis).
Bukan berarti ibu hamil tak boleh sama sekali menyentuh makanan pedas dan asam, yang diperlukan adalah mengatur menjaga untuk mengonsumsinya secara tidak berlebihan
Antidepressant use in pregnancy may raise autism risk..
Children whose mothers take Zoloft, Prozac, or similar antidepressants during pregnancy are twice as likely as other children to have a diagnosis of autism or a related disorder, according to a small new study, the first to examine the relationship between antidepressants and autism risk.
This class of antidepressants, known as selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), may be especially risky early on in a pregnancy, the study suggests. Children who were exposed to the drugs during the first trimester were nearly four times as likely to develop an autism spectrum disorder (ASD) compared with unexposed children, according to the study, which appears in the Archives of General Psychiatry.
The study included fewer than 300 children with a diagnosed ASD and does not prove that taking SSRIs during pregnancy directly causes ASDs, which affect approximately 1 percent of children in the U.S. The findings will need to be confirmed in larger studies, and should not dissuade women from starting or continuing to take SSRIs, experts on prenatal drug exposure and mental health say.
Health.com: Signs you should stop, adjust or switch antidepressants
"Poor maternal mental health during pregnancy is a major public health issue," says Tim Oberlander, M.D., a professor of developmental pediatrics at the University of British Columbia, in Vancouver. "Nontreatment is not an option. While some children might be at risk from an SSRI exposure-and we don't know who, and how that works-there are many mothers and their children as well who will benefit."
What causes autism?
Study shows increase in autism cases
RELATED TOPICS
Autism Spectrum Disorders
Antidepressants
Women's Health
Prenatal Health, Labor and Delivery
The lead author of the study, Lisa Croen, Ph.D., the director of autism research at Kaiser Permanente Northern California, a large nonprofit health plan based in Oakland, emphasizes the preliminary nature of her team's findings. "This is the first study of its kind to look at the association, and the findings have to be interpreted with a lot of caution," she says. "We can't detect causality from one study."
Untreated depression during pregnancy carries its own risks, such as preterm birth and growth problems, Croen adds, and "the potential risks to the child really have to be balanced with the risk to the untreated mom. We don't want people to rush off and stop taking antidepressants if they're on them. They really need to talk to their doctors about the risk-benefit ratio."
Health.com: Surprising facts about antidepressants
Max Wiznitzer, M.D., a pediatric neurologist at Rainbow Babies & Children's Hospital and an associate professor of pediatric neurology at Case Western Reserve University School of Medicine, both in Cleveland, says the study is too small to draw any conclusions. The study is a "signal," he says, "but with a really small group."
Using Kaiser Permanente's patient database, which includes more than 3.2 million people, Croen and her team identified 298 children with an ASD who were born between 1995 and mid-1999, and matched them with 1,507 children without autism who were roughly the same age and were born in the same hospitals.
The authors then cross-checked whether their mothers, in the year before delivery, filled prescriptions for an SSRI, including Prozac, Zoloft, Luvox, Celexa, and Paxil (or their generic versions). The researchers could not confirm whether the mothers actually took the medication, however.
Twenty of the children with an ASD (or 6.7 percent) were exposed to SSRIs in the womb, compared with 50 (3.3 percent) of the control children. After taking into account other factors that could affect both autism risk and SSRI use (such as the mother's age, ethnicity, and history of depression or other mental illness), the researchers found that any exposure to the drugs in the womb increased the risk of ASD diagnosis 2.2-fold, while first-trimester exposure increased the risk 3.8-fold.
Health.com: Do pregnancy and bipolar disorder mix?
Roughly 12 percent of the mothers whose children had an ASD were diagnosed with depression or another mental disorder. Previous research has reported an increased risk of autism in the offspring of mothers with mental disorders, but the new study did not find such a relationship in mothers who did not also take SSRIs.
Slightly more than 2 percent of all autism cases among children born in the late 1990s could be attributed to SSRI exposure, Croen and her colleagues estimate. That percentage might be higher today, Croen says, because SSRI use during pregnancy has become more common. A large 2005 study found that 6.5 percent of pregnant women were taking the drugs.
Croen and her colleagues thought to investigate a possible SSRI-autism link for two reasons. First, the rise in autism rates over the past several decades-which may be due to better awareness and diagnosis, rather than a true increase in cases-has roughly paralleled the growth of SSRI use during pregnancy. (The first SSRI, Prozac, was approved in the U.S. in 1987.)
Health.com: CDC: Autism, ADHD rates on the rise
Second, evidence from previous studies suggests that people with autism have abnormalities in their levels and regulation of serotonin, a brain chemical involved in mood and numerous other biological processes. SSRIs are thought to increase the availability of serotonin in the brain, and since the drugs pass through the placenta, they could conceivably influence the development of a baby's serotonin system.
In animal studies, changes in serotonin levels during pregnancy have been shown to have "downstream effects" on the development of the fetus and offspring, says Oberlander.
If similar effects occur in humans, they may vary depending on a child's genetic makeup, adds Oberlander, stressing that the vast majority of children in the study who were exposed to SSRIs in the womb did not develop autism. "There are many children who have prenatal SSRI exposure who are really quite resilient, and I think part of our job is to figure out who's at risk and who's not," he says.
Health.com: Questionnaire may help predict autism at 1 year
The Food and Drug Administration (FDA) has assigned most SSRIs a "C" grade for safety during pregnancy. When given at high doses, drugs in this category have been linked with birth defects in animal studies, but they have not been proved safe or unsafe in humans because few studies have been conducted. Pregnant women should use them "only if the potential benefit justifies the potential risk to the fetus," according to the FDA.
Nouchine Hadjikhani, M.D., an ASD expert and associate professor of radiology at Harvard Medical School, in Boston, urges pregnant women to err on the side of caution. Animal studies provide strong evidence that exposure to high levels of serotonin in the womb produces autism-like behaviors and changes in brain structure, she says.
"I think one has to be aware of the potential risks of having these types of drugs during pregnancy, and really think twice before allowing them during pregnancy," says Hadjikhani, author of a 2010 paper speculating that excess serotonin levels in pregnancy due to SSRI use could be behind the rise in autism rates.
This class of antidepressants, known as selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), may be especially risky early on in a pregnancy, the study suggests. Children who were exposed to the drugs during the first trimester were nearly four times as likely to develop an autism spectrum disorder (ASD) compared with unexposed children, according to the study, which appears in the Archives of General Psychiatry.
The study included fewer than 300 children with a diagnosed ASD and does not prove that taking SSRIs during pregnancy directly causes ASDs, which affect approximately 1 percent of children in the U.S. The findings will need to be confirmed in larger studies, and should not dissuade women from starting or continuing to take SSRIs, experts on prenatal drug exposure and mental health say.
Health.com: Signs you should stop, adjust or switch antidepressants
"Poor maternal mental health during pregnancy is a major public health issue," says Tim Oberlander, M.D., a professor of developmental pediatrics at the University of British Columbia, in Vancouver. "Nontreatment is not an option. While some children might be at risk from an SSRI exposure-and we don't know who, and how that works-there are many mothers and their children as well who will benefit."
What causes autism?
Study shows increase in autism cases
RELATED TOPICS
Autism Spectrum Disorders
Antidepressants
Women's Health
Prenatal Health, Labor and Delivery
The lead author of the study, Lisa Croen, Ph.D., the director of autism research at Kaiser Permanente Northern California, a large nonprofit health plan based in Oakland, emphasizes the preliminary nature of her team's findings. "This is the first study of its kind to look at the association, and the findings have to be interpreted with a lot of caution," she says. "We can't detect causality from one study."
Untreated depression during pregnancy carries its own risks, such as preterm birth and growth problems, Croen adds, and "the potential risks to the child really have to be balanced with the risk to the untreated mom. We don't want people to rush off and stop taking antidepressants if they're on them. They really need to talk to their doctors about the risk-benefit ratio."
Health.com: Surprising facts about antidepressants
Max Wiznitzer, M.D., a pediatric neurologist at Rainbow Babies & Children's Hospital and an associate professor of pediatric neurology at Case Western Reserve University School of Medicine, both in Cleveland, says the study is too small to draw any conclusions. The study is a "signal," he says, "but with a really small group."
Using Kaiser Permanente's patient database, which includes more than 3.2 million people, Croen and her team identified 298 children with an ASD who were born between 1995 and mid-1999, and matched them with 1,507 children without autism who were roughly the same age and were born in the same hospitals.
The authors then cross-checked whether their mothers, in the year before delivery, filled prescriptions for an SSRI, including Prozac, Zoloft, Luvox, Celexa, and Paxil (or their generic versions). The researchers could not confirm whether the mothers actually took the medication, however.
Twenty of the children with an ASD (or 6.7 percent) were exposed to SSRIs in the womb, compared with 50 (3.3 percent) of the control children. After taking into account other factors that could affect both autism risk and SSRI use (such as the mother's age, ethnicity, and history of depression or other mental illness), the researchers found that any exposure to the drugs in the womb increased the risk of ASD diagnosis 2.2-fold, while first-trimester exposure increased the risk 3.8-fold.
Health.com: Do pregnancy and bipolar disorder mix?
Roughly 12 percent of the mothers whose children had an ASD were diagnosed with depression or another mental disorder. Previous research has reported an increased risk of autism in the offspring of mothers with mental disorders, but the new study did not find such a relationship in mothers who did not also take SSRIs.
Slightly more than 2 percent of all autism cases among children born in the late 1990s could be attributed to SSRI exposure, Croen and her colleagues estimate. That percentage might be higher today, Croen says, because SSRI use during pregnancy has become more common. A large 2005 study found that 6.5 percent of pregnant women were taking the drugs.
Croen and her colleagues thought to investigate a possible SSRI-autism link for two reasons. First, the rise in autism rates over the past several decades-which may be due to better awareness and diagnosis, rather than a true increase in cases-has roughly paralleled the growth of SSRI use during pregnancy. (The first SSRI, Prozac, was approved in the U.S. in 1987.)
Health.com: CDC: Autism, ADHD rates on the rise
Second, evidence from previous studies suggests that people with autism have abnormalities in their levels and regulation of serotonin, a brain chemical involved in mood and numerous other biological processes. SSRIs are thought to increase the availability of serotonin in the brain, and since the drugs pass through the placenta, they could conceivably influence the development of a baby's serotonin system.
In animal studies, changes in serotonin levels during pregnancy have been shown to have "downstream effects" on the development of the fetus and offspring, says Oberlander.
If similar effects occur in humans, they may vary depending on a child's genetic makeup, adds Oberlander, stressing that the vast majority of children in the study who were exposed to SSRIs in the womb did not develop autism. "There are many children who have prenatal SSRI exposure who are really quite resilient, and I think part of our job is to figure out who's at risk and who's not," he says.
Health.com: Questionnaire may help predict autism at 1 year
The Food and Drug Administration (FDA) has assigned most SSRIs a "C" grade for safety during pregnancy. When given at high doses, drugs in this category have been linked with birth defects in animal studies, but they have not been proved safe or unsafe in humans because few studies have been conducted. Pregnant women should use them "only if the potential benefit justifies the potential risk to the fetus," according to the FDA.
Nouchine Hadjikhani, M.D., an ASD expert and associate professor of radiology at Harvard Medical School, in Boston, urges pregnant women to err on the side of caution. Animal studies provide strong evidence that exposure to high levels of serotonin in the womb produces autism-like behaviors and changes in brain structure, she says.
"I think one has to be aware of the potential risks of having these types of drugs during pregnancy, and really think twice before allowing them during pregnancy," says Hadjikhani, author of a 2010 paper speculating that excess serotonin levels in pregnancy due to SSRI use could be behind the rise in autism rates.
Minggu, 21 Agustus 2011
HIPERTENSI DAN JABARANNYA.
Sebelum membahas mengenai tekanan darah tinggi atau hipertensi, ada baiknya Anda mengenal terlebih dahulu tentang tekanan darah. Saat Anda melakukan pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis ke dokter, biasanya ada alat khusus yang digunakan oleh dokter untuk memeriksa tekanan darah. Alat untuk memeriksa tekanan darah disebut sphigmomanometer atau dikenal juga dengan tensimeter. Ada tensimeter digital dan ada juga tensimeter air raksa yang masih umum digunakan untuk pemeriksaan klinis.
Memeriksa Tekanan Darah
Saat memeriksa tekanan darah, ada dua angka yang biasanya disebut misalnya 120/80. Apa yang dimaksud angka-angka tersebut?
Sistolik
Angka pertama (120) yaitu tekanan darah sistolik, yaitu tekanan saat jantung berdenyut atau berdetak (sistol).Sering disebut tekanan atas.
Diastolik
Angka pertama (90) yaitu tekanan darah diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara saat pemompaan. Sering disebut tekanan bawah.
Dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menyuruh Anda duduk atau berbaring, karena itu posisi terbaik untuk mengukur tekanan darah. Lalu dokter biasanya akan mengikat kantung udara pada lengan kanan kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Setelah itu, dilakukan pengukuran tekanan darah. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut.
Apa yang dimaksud dengan tekanan darah? Tekanan darah yaitu tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya terdapat dua angka yang akan disebut oleh dokter. Misalnya dokter menyebut 140-90, maka artinya adalah 140/90 mmHg. Angka pertama (140) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung atau pada saat jantung berdenyut atau berdetak, dan disebut tekanan sistolik atau sering disebut tekanan atas. Angka kedua (90) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastolik atau sering juga disebut tekanan bawah.
Setelah mengetahui tekanan darah, pasti Anda ingin mengetahui apakah tekanan darah Anda termasuk rendah, normal atau tinggi. Berikut ini penggolongan tekanan darah berdasarkan angka hasil pengukuran dengan tensimeter untuk tekanan sistolik dan diastolik:
Mengapa Tekanan Darah Meningkat?
Apa yang menyebabkan tekanan darah bisa meningkat? Sebagai ilustrasi, jika Anda sedang menyiram kebun dengan selang. Jika Anda menekan ujung selang, maka air yang keluar akan semakin kencang. Hal itu karena tekanan air meningkat ketika selang ditekan. Selain itu, jika Anda memperbesar keran air, maka aliran air yang melalui selang akan semakin kencang karena debit air yang meningkat.
Hal yang sama juga terjadi dengan darah Anda. Jika pembuluh darah Anda menyempit, maka tekanan darah di dalam pembuluh darah akan meningkat. Selain itu, jika jumlah darah yang mengalir bertambah, tekanan darah juga akan meningkat.
Penyebab Darah Tinggi
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat Anda kendalikan. Ada juga yang dapat Anda kendalikan sehingga bisa mengatasi penyakit darah tinggi. Beberapa faktor tersebut antara lain:
Keturunan
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
Usia
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.
Garam
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.
Kolesterol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin. Untuk tips mengendalikan kolesterol, silahkan lihat artikel berikut: kolesterol.
Obesitas / Kegemukan
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.
Stres
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
Rokok
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
Kafein
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Alkohol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
Kurang Olahraga
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.
Mencegah dan Mengatasi Darah Tinggi
Untuk mencegah darah tinggi bagi Anda yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi darah tinggi bagi Anda yang sudah memiliki tekanan darah tinggi, maka saran praktis berikut ini dapat Anda lakukan:
Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya Anda menghindari makanan yang mengandung garam.
Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
Kurangi minum minuman atau makanan beralkohol. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari konsumsi alkohol secara berlebihan. Untuk pria yang menderita hipertensi, jumlah alkohol yang diijinkan maksimal 30 ml alkohol per hari sedangkan wanita 15 ml per hari.
Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali seminggu.
Makan sayur dan buah yang berserat tinggi seperti sayuran hijau, pisang, tomat, wortel, melon, dan jeruk.
Jalankan terapi anti stres agar mengurangi stres dan Anda mampu mengendalikan emosi Anda.
Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Kendalikan kadar kolesterol Anda.
Kendalikan diabetes Anda.
Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan ke dokter jika Anda menerima pengobatan untuk penyakit tertentu, untuk meminta obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.........
Memeriksa Tekanan Darah
Saat memeriksa tekanan darah, ada dua angka yang biasanya disebut misalnya 120/80. Apa yang dimaksud angka-angka tersebut?
Sistolik
Angka pertama (120) yaitu tekanan darah sistolik, yaitu tekanan saat jantung berdenyut atau berdetak (sistol).Sering disebut tekanan atas.
Diastolik
Angka pertama (90) yaitu tekanan darah diastolik, yaitu tekanan saat jantung beristirahat di antara saat pemompaan. Sering disebut tekanan bawah.
Dokter akan melakukan pemeriksaan tekanan darah dengan menyuruh Anda duduk atau berbaring, karena itu posisi terbaik untuk mengukur tekanan darah. Lalu dokter biasanya akan mengikat kantung udara pada lengan kanan kecuali pada lengan tersebut terdapat cedera. Setelah itu, dilakukan pengukuran tekanan darah. Perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik disebut tekanan denyut.
Apa yang dimaksud dengan tekanan darah? Tekanan darah yaitu tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya terdapat dua angka yang akan disebut oleh dokter. Misalnya dokter menyebut 140-90, maka artinya adalah 140/90 mmHg. Angka pertama (140) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung atau pada saat jantung berdenyut atau berdetak, dan disebut tekanan sistolik atau sering disebut tekanan atas. Angka kedua (90) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastolik atau sering juga disebut tekanan bawah.
Setelah mengetahui tekanan darah, pasti Anda ingin mengetahui apakah tekanan darah Anda termasuk rendah, normal atau tinggi. Berikut ini penggolongan tekanan darah berdasarkan angka hasil pengukuran dengan tensimeter untuk tekanan sistolik dan diastolik:
Mengapa Tekanan Darah Meningkat?
Apa yang menyebabkan tekanan darah bisa meningkat? Sebagai ilustrasi, jika Anda sedang menyiram kebun dengan selang. Jika Anda menekan ujung selang, maka air yang keluar akan semakin kencang. Hal itu karena tekanan air meningkat ketika selang ditekan. Selain itu, jika Anda memperbesar keran air, maka aliran air yang melalui selang akan semakin kencang karena debit air yang meningkat.
Hal yang sama juga terjadi dengan darah Anda. Jika pembuluh darah Anda menyempit, maka tekanan darah di dalam pembuluh darah akan meningkat. Selain itu, jika jumlah darah yang mengalir bertambah, tekanan darah juga akan meningkat.
Penyebab Darah Tinggi
Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat Anda kendalikan. Ada juga yang dapat Anda kendalikan sehingga bisa mengatasi penyakit darah tinggi. Beberapa faktor tersebut antara lain:
Keturunan
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
Usia
Faktor ini tidak bisa Anda kendalikan. Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.
Garam
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.
Kolesterol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin. Untuk tips mengendalikan kolesterol, silahkan lihat artikel berikut: kolesterol.
Obesitas / Kegemukan
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.
Stres
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
Rokok
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
Kafein
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Alkohol
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
Kurang Olahraga
Faktor ini bisa Anda kendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.
Mencegah dan Mengatasi Darah Tinggi
Untuk mencegah darah tinggi bagi Anda yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi darah tinggi bagi Anda yang sudah memiliki tekanan darah tinggi, maka saran praktis berikut ini dapat Anda lakukan:
Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya Anda menghindari makanan yang mengandung garam.
Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
Kurangi minum minuman atau makanan beralkohol. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari konsumsi alkohol secara berlebihan. Untuk pria yang menderita hipertensi, jumlah alkohol yang diijinkan maksimal 30 ml alkohol per hari sedangkan wanita 15 ml per hari.
Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali seminggu.
Makan sayur dan buah yang berserat tinggi seperti sayuran hijau, pisang, tomat, wortel, melon, dan jeruk.
Jalankan terapi anti stres agar mengurangi stres dan Anda mampu mengendalikan emosi Anda.
Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Kendalikan kadar kolesterol Anda.
Kendalikan diabetes Anda.
Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan ke dokter jika Anda menerima pengobatan untuk penyakit tertentu, untuk meminta obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.........
Langganan:
Postingan (Atom)





